5 Contoh Penggunaan dan Pengelolaan Dana Desa yang Tepat

Contoh penggunaan dana desa yang tepat

Salah satu cara untuk bisa memajukan desa dimulai dari penggunan dan pengelolaan dana desa itu sendiri.

Karena ketika jelas alur dana yang diberikan kepada masyarakat berarti adanya perubahan yang akan dikembangkan menjadi lebih baik. Efeknya, hal ini bisa memberikan kesejahteraan untuk masyarakat desa itu sendiri.

Adanya penggunaan dan pengelolaan dana desa ini sendiri bertujuan untuk meningkatkan pelayanan publik di desa sehingga administrasi di desa lebih tertib dan terjaga kerapihannya.

Pengelolaan dana desa yang tepat

Untuk melihat contoh penggunaan dan pengelolaan dana desa, Anda bisa melihatnya pada ulasan berikut ini dengan disertai nama tempat desa-desa yang telah melakukan hal tersebut.

Mengenal Contoh Penggunaan dan Pengelolaan Dana Desa yang Tepat

1. Pendidikan

Pendidikan di desa tergolong masih rendah baik itu dari faktor tradisi, pribadi, dan juga fasilitas yang dimiliki desa itu sendiri.

Seperti yang diketahui bersama, Pendidikan di desa belum sebaik dan selengkap di desa.

Baca juga : Pengertian Desa dan 10 Perbedaan Dengan Perkotaan

Karena itulah penggunaan dan pengelolaan dana desa ini ada yang ditujukan untuk dana Pendidikan.

Padahal dengan mengenyam pendidikan lebih baik ini, mereka bisa mendapatkan kehidupan lebih baik di masa yang akan datang.

Setiap tahunnya, ada banyak anak-anak di desa yang tidak bisa dan putus bersekolah. Mereka lebih memilih untuk membantu orang tuanya mendapatkan ekonomi yang lebih baik.

Anak-anak seharusnya mendapatkan haknya untuk mendapatkan Pendidikan yang lebih baik dari sebelumnya.

Di Brebes, Desa Wanatirta sudah ada sebuah program yang bernama Gerakan Kembali Bersekolah (GKB).

Desa tersebut menganggarkan dana sebesar Rp 60 juta untuk membantu anak-anak desa setempat agar bisa kembali sekolah.

Beda halnya dengan di Bengkulu terdapat sebuah desa kota Bani yang mengalokasikan dana desa untuk memperbaiki fasilitas PAUD serta biaya insentif untuk guru-guru yang mengajar di desa tersebut.

Adanya dana penggunaan dan pengelolaan dana tersebut membangkitkan semangat anak-anak desa dan juga orang tua yang menginginkan mereka mengenyam pendidikan tetapi terhalang oleh dana.

2. Sanitasi dan Air minum

Walaupun di desa terdapat sumber air minum yang bisa didapatkan dengan mudah, tetap saja sumber air minum tersebut harus dikelola dengan baik.

Sayangnya, pengetahuan dan pemahaman pengelolaan sanitasi dan air minum ini tidak dipahami oleh masyarakat desa, sehingga pengelolaan ini sendiri terkesan tidak terurus dengan baik dan masih terhalang oleh dana.

Baca juga : 10 Ciri-Ciri Desa, Apakah Daerahmu Masih Tergolong Pedesaan atau Perkotaan?

Berdasarkan hal tersebut, dari sejak tahun 2007 WHO mencatat bahwa sanitasi dan air minum yang tidak dikelola dengan baik berdampak pada kesehatan masyarakat dengan terjangkitnya penyakit diare.

Melihat fenomena tersebut, pemerintah lewat Kementrian Kesehatan (Kemenkes) membuat program yang bernama Sanitasi Total Bebasis Masyarakat (STBM).

Program yang digulirkan tersebut ternyata berdampak nyata pada masyarakat desa dengan menurunnya penyakit diare hingga 94 persen berdasarkan data yang diperoleh dari WHO.

Sebelum penyakit diare itu turun, pada umumnya masyarakat desa melakukan kebiasan buruk di desanya , seperti buang air besar semabarangan, mandi menggunakan air tidak bersih, tidak mencuci tangan sebelum makan dan setelah BAB, belum adanya pengolaan sampah, pengolahan air minum yang masih terbatas, serta masih minimnya pengolahan limbah cair.

Salah satu bentuk nyata yang dilakukan program STBM ini adalah dengan menyediakan fasilitas MCK bagi masyarakat desa, sosialisasi cuci tangan sebelum makan, serta penyuluhan lainnya yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat.

Sayangnya, program STBM ini tidak semua desa di Indonesia menerimanya. Fakta di lapangan menjelaskan bahwa ada beberapa tempat MCK yang tidak dirawat dengan baik karena mereka sudah nyaman untuk mandi, BAB, mencuci baju, dan lain sebagainya di sungai.

Tetapi, bukan berarti program ini gagal, karena di beberapa desa di Indonesia, seperti di Kabupaten Alor, Desa Otvai program tersebut sudah dijalankan dengan baik. Terbukti dengan adanya alokasi dana sebsar 100 juta untuk pengelolaan dan pembangunan jamban di tempat tersebut.

Karena itulah, pada tahun 2016-2017 menunjukkan persentase yang naik drastis dalam segi perubahan pola hidup di desa tersebut terutama yang berhubungan dengan sanitasi air minum tersebut.

Memang tidak mudah mengajak masyarakat untuk meninggalkan perubahan yang sudah menjadi kebiasaan.

Namun dengan sosialisasi yang terus digemborkan, memperlihatkan perubahan yang signifikan dan juga meningkat.

3. Kesehatan

Penggunaan dan pengelolaan dana desa berikutnya dalam bidang kesehatan. Seperti yang diketahui bersama, fasilitas kesehatan di desa pun masih sangat minim dan jarang, sehingga hal tersebut harus dipikirkan dan ditindaklanjuti dengan seksama oleh pemerintah desa itu sendiri.

Di desa sendiri biasanya hanya tersedia puskesmas dan posyandu tidak lebih dari dua tempat. Ada pula yang hanya memiliki puskesmas atau posyandu saja dengan tenaga medis yang terbatas.

Fenomena ini terjadi, mengingat masyarakat desa masih percaya dengan pengobatan tradisional dan belum sepenuhnya percaya dengan pengobatan modern tersebut.

Karena itulah, pemerintah mulai mempriortiaskan hal dengan melakukan sosialisasi lewat peemrintah desa serta organisasi kemasyarakatan yang ada di desa itu sendiri.

Jika sudah ada puskesmas atau posyandu, langkah pemerintah adalah dengan menambah dan memperbaiki fasilitas kesehatan serta pemberian intensif yang memadai untuk para tenaga medis yang bertugas.

Dalam hal kesehatan di desa ini, pemerintah pun snagat memperhatikan para wanita terutama ibu hamil dan menyusui. Karena angkat kematian ibu hamil ini masih tinggi serta pengasuhan anak yang belum tepat.

4. Infrastruktur

Penggunaan dan pengelolaan dana desa berikutnya adalah untuk infrastruktur yanga da di desa.

Infrastruktur yang dimaksud untuk membangun fasilitas-fasilitas umum di desa seperti balai desa, rumah ibadah, pos keamanan, perbaikan jalan, memperbaiki bangunan yang rusak, membangun jembatan, dan lain sebagainya.

Baca juga : Isi Peraturan Keuangan Desa dalam Undang-Undang Desa

Untuk membangun infrastruktur di desa sendiri memang tidak mudah.mereka masih patuh terhadap adat istiadat sehingga tidak bisa sembarangan untuk membangun.

Tentunya, untuk mengatasi hal tersebut pemerintah desa selalu melibatkan pemangku adat atau orang yang dianggap sepuh untuk bermusyawarah membangun infrastruktur yang perlu dan tidak perlu dibangun di desa tersebut.

Jadi, sangatlah wajar bila pembangunan di desa tidak sebanyak yang ada di perkotaan.
Tetapi, biasanya yang menjadi prioritas pembangunan oleh pemerintah ini dari perbaikan jalan untuk memudahkan masyarakat setempat dan orang luar untuk berkunjung ke desa tersebut.

5. Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)

Penggunan dan pengelolaan dana desa untuk pengembangan BUMDes ini sangat penting karena bisa membantu meningkatkan perekonomian di desa tersebut.

Seperti yang diketahui bersama adanya BUMDes ini banyak warga yang terdorong untuk menjadi pebisnis dengan menciptakan produk-produk yang berasal dari desa itu sendiri.

Dengan begitu, mata pencaharian di desa pun tidak monoton dan lebih bervariasi.

Dana desa yang dikeluarkan untuk BUMDes ini sendiri bisa menjadikan masyarakat desa lebih produktif. Mereka akan dibantu dalam hal modal, pengelolaan produksi, distribusi, hingga pemasaran.

Contoh nyata pengelolaan dana desa untuk BUMDes ini adalah dengan membentuk desa wisata. Untuk mendirikan desa wisata ini memerlukan modal yang tidak sedikit.

Tentu dengan adanya BUMDes keinginan warga untuk bisa menjadi desa wisata tersebut bisa terwujud dengan baik.

Tidak hanya untuk desa wisata, ada pula yang memerlukan modal untuk mengembangkan pertanian dan juga peternakannya. Sehingga mereka bisa maju dan mandiri.

Desa di Indonesia yang Menggunakan dan Mengelola Dana Desa dengan Baik.

1. Desa Ngadas

Desa Ngadas, terletak Kabupaten malang dan dikenal sebagai desa wisata bernama Tengger.

Desa ngadas sendiri menjadi conoh dalam pengalokasian dana desa terhadap kebutuhan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dana desa tersebut dialokasikan untuk bidang infrastruktur yaitu pengadaan jalan tani. Jalan ini yang berfungsi sebagai akses bagi masyarakat dalam mempermudah jalan menuju ladang.

Dulu, kondisi jalan tersebut sangatlah tidak layak untuk dilalui karena hanya untuk satu orang dengan dipenuhi bebatuan. Apabila musim hujan tiba, jalan di desa tersebut dipenuhi lumpur dan harus berhati-hati untuk melewatinya.

Namun, karena dana desa tersebutlah kini jalan tersebut bisa dilalui motor dan juga mobil pick up.

Tentu saja hal tersebut memudahkan transaksi jual beli hasil panen masyarakat di Desa Ngadas. Selain itu, desa Ngadas juga merupakan jembatan yang menghubungkan dengan desa-desa lainnya.

Desa ngadas juga merupakan jalur wisata menuju ke Gunung Bromo ataupun Gunung Semeru sehingga digunakan menjadi akses jalan wisata.

Desa Ngadas juga sudah memiliki sanitasi yang memadai sehingga terjaga kebersihan dan kesehatan masyarakatnya.

Semangat gotong royong dalam memecahkan masalah yang terjadi di pedesaaan juga merupakan contoh yang bisa ditiru desa lainnya. Karena tanpa kebersamaan dan keinginan bersama tidak akan terwujudnya hal tersebut.

2. Desa Ponggok

Desa Ponggok merupakan desa wisata yang berada di daerah Klaten Jawa Tengah. Desa ini juga bisa dijadikan contoh dalam pengalokasian dana desa terbaik di Indonesia.

Desa ini telah mendapatkan apresiasi dari Presiden Jokowi dan juga Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Hal tersebut dikarenakan pengalokasian dana desa yang jelas terhadap visi misi dari desa tersebut.

Desa ponggok ini dulu tidak mempunyai suatu keunggulan apapun, namun hari ini bisa mendapat pendapatan miliyaran per tahunnya.

Umbul ponggok contohnya adalah tempat wisata dengan mata air yang jernih diubah menjadi tempat wisata yang banyak digandrungi oleh masyarakat .

Keunikan umbul ponggok ini selain mata air yang jernih, wisatawan juga dapat berfoto didalam air dengan hewan-hewan yang ada di dalamnya.

Karena umbul ponggok ini merupakan wisata air tawar sehingga tidak ada hewan yang menakutkan.

Adapun program unggulan dari Desa Ponggok sendiri yaitu satu rumah satu sarjana untuk meningkatkan pendidikan yang ada.

Selain dari desa wisata dan pendidikan, program lainnya seperti program renovasi rumah, sanitasi, air bersih juga perlindungan sosial lansia dan perlindungan kesehatan untuk asuransi BPJS.

Penutup

Ada banyak Desa yang telah mengalokasikan dana desa secara tepat hal tersebut juga harus sesuai dengan visi misi dari desa.

Tentunya setiap desa memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda. Namun, disinilah tantangannya. Masyarakat desa harus bisa menggali potenis dalam diri ataupun potensi desanya untuk bisa berkembang lebih baik lagi.

Dana desa telah dianggarkan dan dialokasikan, maka tugas rakyat selanjutnya adalah ‘’menjemput bola’’ tersebut dengan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemajuan desa itu sendiri.

Semoga informasi di atas bermanfaat untuk Anda.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top